news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Gerakan Mahasiswa, Antara Idealisme dan Pragmatisme

getting time ...

OPINI

M. Abrar Parinduri, MA

Gerakan Mahasiswa, Antara Idealisme dan Pragmatisme

Selasa, 19 Februari 2013 11:08 wib

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gerakan adalah perbuatan atau keadaan bergerak. Sedangkan mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Selanjutnya menurut Sarwono (1978) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun.

Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.

Mahasiswa menurut Knopfemacher adalah merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual.

Dari pendapat di atas bisa dijelaskan bahwa mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Salah satu bentuk gerakan sosial (social movement) adalah gerakan mahasiswa (student movement), di samping berbagai gerakan lain yang dilakukan oleh buruh, kaum gay, feminis, pecinta lingkungan, petani dan sebagainya. Pada dasarnya gerakan sosial mencakup beberapa konsep (Cook et al., 1995), yakni: Berorientasi pada munculnya perubahan (change oriented goals); ada tingkatan tertentu dalam suatu organisasi (some degree of organization); ada tingkatan kontinuitas aktivitas yang sifatnya temporal (some degree of temporal continuity); Aksi kolektif di luar lembaga (aksi ke jalan) dan di dalam lembaga (lobi politik) (some extrainstitutional and institutional).

Gerakan mahasiswa atau aksi kolektif mahasiswa termasuk dalam kategori gerakan sosial karena memiliki beberapa ciri khas (Hamka, 2000), antara lain : Gerakan mahasiswa diwadahi oleh organisasi, baik yang bersifat permanen untuk menjangkau kepentingan jangka panjang maupun gerakan temporer (anomic) yang berlangsung dalam jangka pendek; memiliki tujuan yang berbeda sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan keanekaragaman organisasi; dilakukan dengan penuh kesadaran dan bukan semata-mata atas dasar ketidakpuasan dan emosi; memiliki ideologi yang bervariasi sesuai bentuk organisasi dan kondisi politik; tidak membentuk lembaga resmi seperti partai politik, namun lebih menekankan aksi-aksi kolektif yang inkonvensional untuk memujudkan tujuan gerakan; di dalam menggelar aksi protes kolektif, gerakan mahasiswa menampilkan isu yang strategis sebagai sarana untuk memobilisasi massa dan mengefektifkan aksi.

Berdasarkan berbagai definisi dan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gerakan mahasiswa adalah perilaku kolektif dari sekumpulan mahasiswa dalam waktu yang relative lama, terorganisir dan mempunyai tujuan untuk mengadakan perubahan struktur sosial yang dianggap tidak memenuhi harapan, serta memunculkan kehidupan baru yang lebih adil dan berpihak pada rakyat kecil.

Idealisme Gerakan Mahasiswa

Mahasiswa dengan sederet titel sosial mulai dari agent of change, agent of social control. Bahkan, menurut sebagian besar masyarakat menyebut mahasiswa adalah orang yang serba bisa, serba tahu berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat. Hal ini menjadikan mahasiswa sebagai kaum elit dan terhormat dibanding dengan kaum muda lainnya.

Namun, sederet titel dan penghargaan terhadap mahasiswa teryata tidak semuanya berbuah manis serta sesuai dengan harapan. Maraknya pemberitaan di media massa baik melalui media cetak maupun elektronik menunjukkan betapa ironisnya prilaku mahasiswa akhir-akhir ini.

Di beberapa kampus (baik negeri maupun swasta , kampus besar maupun kecil) di Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke banyak sekali terjadi tawuran antar mahasiswa. Berbagai macam alasan para mahasiswa melakukan aksi seperti ini mulai dari kebijakan pemerintah yang kurang representatif, kebijakan kampus yang kurang populis bagi mahasiswa, dan yang paling parah tawuran ini bermula dari dari konflik personal yang kemudian dibawa ke dalam konflik kelompok.

Sejarah mengingatkan kita bahwa runtuhnya rezim Sukarno yang totaliter serta mengagungkan dirinya sebagai presiden seumur hidup tidak lain karena idealisme mahasiswa. Sama halnya pada rezim Suharto yang otoriter juga runtuh oleh gerakan mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa merupakan generasi penting dalam suatu negara. Kalau pemudanya kuat maka negara akan kuat juga.

Di era reformasi saat ini (mungkin lebih tepatnya pasca reformasi), sudah sepatutnya dan selayaknya mahasiswa mempertahankan idealismenya. Ciri khas mahasiswa seharusnya adalah idealis rasionalis, karena setiap aktivitas dan gerakan mahasiswa selalu dilandasi oleh kekuatan moral ‘moral force‘, pemikiran yang matang, dan tidak berlandaskan kepentingan.

Akan tetapi, citra mahasiswa sekarang mulai tergeser akibat prilakunya sendiri. Masyarakat merasa bahwa mahasiswa adalah benalu yang sering membuat susah.Sebagai contoh, seringnya demo mahasiswa yang membuat macet jalan umum, dan ujung-ujungnya berakhir anarkis,  dan terkadang masyarakat menyebut mahasiswa tak jauh beda dengan preman pasar yang membuat gaduh dan menyengsarakan banyak orang.

Pragmatisme Gerakan Mahasiswa


Pragmatisme pada dasarnya merupakan gerakan filsafat Amerika yang sangat dominan selama satu abad terakhir dan mencerminkan sifat-sifat kehidupan Amerika. Demikian dekatnya pragmatisme dengan Amerika sehingga Popkin dan Stroll menyatakan bahwa pragmatisme merupakan gerakan yang berasal dari Amerika yang memiliki pengaruh mendalam bagi kehidupan intelektual di Amerika. Pertanyaan tentang kebenaran, asal dan tujuan, hakikat serta hal-hal metafisis bagi mayoritas orang Amerika menjadi pokok pembahasan dalam filsafat Barat hanya bersifat teoretis. Pada umumnya mereka membutuhkan hasil yang konkret, sesuatu yang penting dapat dilihat kegunaannya.

Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan.

Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah "faedah" atau "manfaat". Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works).

Jika pengertian ini dibawa ke dalam sebuah gerakan mahasiswa maka pragmatisme gerakan mahasiswa adalah sejauh mana kerja-kerja atas nama perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa mampu memberikan manfaat kepada organisasi yang ia naungin dan tidak jarang pula bisa diartikan sejauh mana mampu memberikan manfaat kepada diri pribadinya sendiri. Secara singkat, ia mau melakukan sebuah tindakan sekalipun itu anarkis, jika mampu memberikan manfaat atau keuntungan kepada dirinya meskipun sifatnya hanya sesaat.

Dengan demikian gerakan mahasiswa yang terlihat hari ini hampir menuju kearah pragmatisme itu sehingga kita tidak menemukan lagi sebuah gerakan mahasiswa yang memang benar-benar murni dan dilatarbelakangi semangat yang mulia untuk menciptakan sebuah perubahan.

Gerakan mahasiswa hari ini seolah-oleh telah berada di persimpangan jalan dan mereka bingung untuk menjelaskan identitas gerakannya antara Gerakan Intelektual atau menjadi Underbone Partai Politik tertentu.
Gerakan mahasiswa kini tak fasih lagi jika diajak berdiskusi masalah ke-ilmuan akan tetapi mereka kini lebih fasih jika diajak bicara tentang perkembangan politik yang ada. Dari perilaku ini kemudian muncul para aktifis kampus yang tak punya kemampuan mumpuni dalam ke-ilmuannnya dan jika memiliki hambatan dalam penyelesaian studinya di kampus maka ia lebih sering memilih berlindung dibalik para senioran mereka yang sudah punya jabatan penting dibeberapa instansi pemerintahan dengan harapan mampu memback-up serta menyelesaikan segala permasalahan dirinya di kampus.

Gerakan mahasiswa harus melakukan ruwetan atau meminjam istilah agama kita taubatan nasuha agar setiap tindakan, pemikiran dan aksinya benar-benar murni  dan dilandasi dengan fakta-fakta kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan.
 
M. Abrar Parinduri, MA
Dosen Luar Biasa IAIN Sumatera Utara
Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (MPP ADI)


(//mbs)

RESENSI »

Ketika Anak Nagari Bersuara
Ketika Anak Nagari Bersuara

Melihat sampul depan buku ini, terpampanglah foto penulisnya. Mengenakan baju putih seraya tersenyum disanding penggalan rumah gadang dan Tabuik.

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Jangan Giring Pilihan Politik Siswa Lewat Soal Ujian
Jangan Giring Pilihan Politik Siswa Lewat Soal Ujian

RANAH pendidikan yang seharusnya steril dari hiruk pikuk politik nyatanya masih jauh dari harapan. Acapkali momentum sakral berupa ujian nasional masih ‘dinodai’ soal-soal bernuansa kampanye.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Presiden, Antara yang Dinginkan dan Dibutuhkan
Presiden, Antara yang Dinginkan dan Dibutuhkan

Meratanya perolehan suara untuk PDIP, Golkar, dan Gerindra diprediksi akan membuat koalisi makin sulit ditebak. Diprediksi akan ada tiga atau empat pasang dalam Pilpres 2014.