news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Ironi Kekerasan dan Pendidikan Perdamaian

getting time ...

OPINI

Mohammad Takdir Ilahi

Ironi Kekerasan dan Pendidikan Perdamaian

Selasa, 19 Maret 2013 10:39 wib

Berbagai peristiwa kekerasan yang sering berlangsung dalam kehidupan sehari-hari yang kita saksikan melalui TV maupun media cetak, menunjukan betapa masyarakat kita tengah mengalami degradasi jati diri dan terkikisnya nilai-nilai karakter bangsa (nation character values).

Seiring perjalanan waktu, moral bangsa terasa semakin amburadul, huru-hara, kesewenangan, ketimpangan, maraknya aksi terorisme, konflik dan pergaulan bebas di kalangan remaja terjadi di mana-mana, tatakrama pun hilang, nyawa seperti tak ada harga, korupsi menjadi-jadi bahkan telah dilakukan terang-terangan dan berjamaah.

Krisis karakter yang menimpa bangsa Indonesia secara tidak langsung mempengaruhi keperibadian dan perilaku mereka sehari-hari. Krisis karakter yang dialami bangsa saat ini disebabkan kerusakan individu-individu masyarakat yang terjadi secara kolektif sehingga terbentuk menjadi budaya. Karakter yang merupakan warisan penjajah dan dijadikan budaya bagi masyarakat Indonesia sebagaimana Mochtar Lubis (1997) mengumukakan ciri manusia Indonesia yang antara lain munafik, segan dan enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya tahayul, artistik, berwatak lemah (cengeng), tidak hemat, kurang gigih, serta tidak terbiasa bekerja keras.

Di lain pihak, ada gejala yang tidak beres dalam dunia pendidikan, seperti siswa yang sering tawuran, siswa yang menjadi korban narkoba, siswa yang tidak bersemangat belajar, siswa yang mencontek saat ujian, siswa yang memperkosa temannya sendiri dan masih banyak lagi permasalahan pendidikan yang sedang berlangsung. Belum lagi persoalan yang terjadi pada lulusan pendidikan yang terjebak pada pengangguran atau budaya korupsi yang menimpa kalangan akademis.

Fenomena kriminalitas dan kekerasan yang terjadi dalam realitas kehidupan semuanya hampir berkaitan dengan dunia pendidikan, baik itu yang pra, saat atau pasca pendidikan. Ironisnya, fenomena kriminalitas dan tindakan kekerasan semakin mewabah pada anak usia sekolah dasar yang masih membutuhkan bimbingan dan pengawasan langsung dari orangtua. Buktinya, fenomena tawuran sangat mudah menular dari satu tempat ke tempat yang lain serta dari satu institusi ke institusi lainnya.

Dalam psikologi sosial, perilaku agresivitas merupakan salah satu wujud yang bersumber dari thanatos (naluri kematian), yang mengarah pada kemarahan, benci, dan perusakan diri. Kemarahan berbeda dengan agresi. Agresi mempunyai tujuan untuk melukai orang lain secara sengaja, sedangkan kemarahan hanya berupa perasaan dan tidak mempunyai tujuan apapun. Sebagai contoh, seseorang dapat dikatakan marah apabila dia sedang merasa frustasi atau tersinggung. Kemarahan merupakan perasaan tidak senang sebagai reaksi atas cedera fisik maupun psikis yang diderita oleh individu (Reza I. Amriel, 2007).

Fenomena tawuran antarpelajar bisa dimaknai sebagai kegagalan pendidikan dalam membentuk keperibadian yang luhur dan berbudi pekerti bagi anak didik. Lembaga pendidikan yang merupakan wahana strategis untuk mencetak generasi emas, malah terjebak pada kubangan persoalan yang bersifat ekstrimis dan anarkis. Sungguh sangat disayangkan bila perilaku agresif dan anarkis menimpa kalangan pelajar dan mahasiswa, karena mereka adalah generasi penerus yang diharapkan menjadi mercusuar peradaban dan obor pencerahan bagi kemajuan bangsa dan agama.

Lembaga pendidikan di Indonesia boleh dibilang gagal berperan sebagai pranata sosial yang mampu membangun karakter tunas-tunas bangsa sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai luhur kebangsaan yang dicita-citakan. Celakanya, model perilaku paradoksal inilah yang berkembang menjadi spirit nasional dan terkesan menjadi karakter bangsa. Lembaga pendidikan di Indonesia tidak mampu menegakkan nilai-nilai toleransi, demokrasi, dan menyiapkan generasi yang kritis dengan basis pengetahuan dan kompetensi.

Di tengah akumulasi kekerasan dan konflik yang menimpa bangsa Indonesia, pendidikan agama yang seperti apa yang bisa meredam segala macam gejolak maupun egosentrisme? Bagaimana pun pendidikan agama merupakan faktor penting dalam membentuk sikap dan perilaku anak didik. Pendidikan agama yang diajarkan di sekolah harus benar-benar aplikatif dan tidak tekstual dalam menyampaikan sebuah materi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Perdamaian


Maka, mengantisipasi berulangnya kasus kekerasan dalam skala yang lebih besar bahkan bisa terjadi berlarut-larut, diperlukan upaya pencegahan melalui studi peace education building. Johan Galtung (2003), memahami bahwa studi perdamaian adalah kerja untuk mengurangi kekerasan dengan cara-cara damai. Salah satu jalan untuk transformasi studi perdamaian adalah lewat pendidikan. Proses pendidikan menjadi sebuah upaya pembentukan peserta didik yang dapat mengembangkan diri pada dimensi intelektual, moral dan psikologis mereka.

Kesadaran inilah perlu ditanamkan lewat pendidikan perdamaian (peace education) sebagai bagian dari tawaran untuk mencegah semakin maraknya aksi kekerasan secara komunal di kalangan generasi muda yang menjadi harapan bangsa ke depan. Melalui penerapan peace education dalam kurikulum sekolah, kita bisa menekan tindakan kekerasan atau sikap intoleransi yang dapat merugikan orang lain karena anak didik diajarkan sejak dini bagaimana membangun bina damai tanpa mengedepankan egosentrisme yang menyulut api permusuhan.

Penerapan konsep peace education dalam kurikulum sekolah merupakan salah satu strategi yang dinilai efektif untuk mengoptimalkan peran pendidikan agama yang menjadi sumber pembentukan utama untuk membina karakter dan watak anak didik agar menjadi generasi yang mencintai semangat perdamaian dalam skala global. Generasi yang dibalut dengan karakter cinta damai diharapkan mampu menjadi teladan generasi masa kini untuk berbuat lebih baik bagi perbaikan bangsa yang sedang menghadapi ancaman kekerasan yang bertubi-tubi.

Pada akhirnya, sekolah sebagai lembaga pendidikan memberi arti bagi anak didik karena merupakan internalisasi dalam melakukan hubungan dengan sesama, sekaligus tempat untuk belajar, berinteraksi, bekerjasama, hidup berdampingan secara damai, saling memahami, menambah pengalaman hidup (learning live together) dalam situasi kemajemukan atau keanekaragaman (unity in diversity).

Mohammad Takdir Ilahi
Pegiat Peacebuilding dan Resolusi Konflik Pada Program Pascasarjana, UIN Sunan Kalijaga dan Staf Riset The Mukti Ali Institute Yogyakarta.
Alamat: Gg. Ori 02. No. 6-F Papringan Depok Sleman Yogyakarta.


(//mbs)

RESENSI »

Kejar Mimpi, Sukses Didapat
Kejar Mimpi, Sukses Didapat

"Lentera jiwa takkan pernah redup bila kita sendiri tak menghendakinya.  Meskipun sumbunya kecil, nyalanya bisa menerangi kegelapan, menunjukkan kebahagiaan ke berbagai penjuru kalau kita mau menyalakannya.” ~Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Otak Atik Koalisi Menuju RI 1
Otak Atik Koalisi Menuju RI 1

HASIL Pemilihan Legislatif masih dalam penghitungan Komisi Pemilihan Umum. Jika berkaca dengan hasil penghitungan cepat atau quick count, maka PDI Perjuangan menjadi pemenang, disusul oleh Partai Golkar, dan Partai Gerindra.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Ferry Ferdiansyah
Komitmen SBY Terhadap Perlindungan Anak dan Perempuan
Komitmen SBY Terhadap Perlindungan Anak dan Perempuan

Setelah sempat mengalami tarik ulur, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 7 Maret 2014 lalu, menandatangani Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2014, tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial.