news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Belajar Sekolah

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Belajar Sekolah

Selasa, 04 Juni 2013 13:45 wib

SEJAK 1955, Indonesia mengadakan Pemilihan Umum. Caranya dengan mencoblos. Saat itu baru 10 tahun negara merdeka. Angka buta huruf di kalangan penduduk lebih 50 persen. Jadi, demi merayakan kemerdekaan digelarlah pesta demokrasi. Coblos ialah cara mudah bagi mayoritas buta huruf untuk berpartisipasi di Pemilu.
 
58 tahun berlalu. Sekarang, angka melek huruf di seluruh pelosok Nusantara mencapai 93 persen. Tapi, sistem Pemilu masih tetap mencoblos. Belum juga diubah, tak tergantikan. Padahal sistem coblos di dunia tinggal digunakan dua negara. Selain Indonesia juga dipakai Kamerun – negara buta huruf dan miskin di Afrika.
 
Satu-dua-tiga tokoh nasional lantas melontarkan kritik terbuka. Lewat suara lantang dan keras, mereka seperti menyemprotkan air cabai ke muka kita. Sistem yang usang disoroti dengan terang. Sudah ditemukan banyak bukti bahwa hak suara yang dicoblos amat mudah diselewengkan. Cara Pemilu dengan mencoblos gampang dimanipulasi. Ditawarkan agar Pemilu memakai sistem centang saja.
 
Karena kritik itu, kemudian, diadakan penelitian tentang sistem Pemilu. Pendekatannya melalui teori komparasi: coblos atau centang. Kedua sistem itu diperbandingkan. Simulasi pun digelar pada dua provinsi. Para pemilih sebelumnya disosialisasikan mengenai cara mencentang. Hasilnya? Masih saja ada yang mencoblos kertas suara!
 
Mata pena diketahui sebagai alat untuk menulis. Atau untuk membuat tanda centang di atas kertas. Ya, bisa jadi ada yang menilainya sebagai alat untuk mencoblos! Tapi, bolehkah itu dibenarkan?
 
Di akhir penelitian, berkonsultasilah Komisi Pemilihan Umum dengan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat pada 25 September 2008. Permufakatan dibuat lalu disepakati: Sistem coblos masih dibolehkan. Berarti, nilai keliru dalam simulasi itu telah dijadikan kebenaran. Entah, sampai kapan.
 
Sampai banyak kasus. Misalnya, pemilihan Walikota Palembang, baru-baru ini. Kontestan A unggul 8 suara dari Kontestan B. Keunggulan itu disebut-sebut sebagai rekor selisih suara tercoblos paling tipis dalam sejarah Pemilu di Indonesia. Tapi, sebelum rekornya ditetapkan, Kontestan B tidak senang. Gugatan dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi. Bisa diketahui, bukti-bukti penting dikemukakan dalam sidang pengadilan, terutama berkas kertas suara.
 
Hakim Agung secara seksama meneliti kertas-kertas suara itu pada bolong semua. Barangkali ada kertas yang dicoblos sampai keluar garis hingga otomatis hak suaranya hilang. Atau mencoblos tidak tepat di gambar, coblosan terlalu besar sampai kena gambar lawan, tercoblos dua kali, dan kertas suara dicoblos kebablasan, dan sebagainya.
 
MK telah mengambil keputusan. Kontestan B menang. Rekor coblos paling tipis dianulir sebelum jadi sejarah besar. Urusan coblos-mencoblos di bilik suara akhirnya disudahi ketukan sebilah palu di meja hijau.
 
Rasanya adil, tidak? Selesai, belum?
 
Pada 6 Juni ini sebanyak 1,1 juta warga Palembang kembali akan memilih Gubernur Sumatera Selatan. Mereka berjumlah mayoritas: 18,9 persen dari total pemilih. Sistem yang diikuti masih sama ala Pemilu Walikota lalu. Digelar lagi, pesta coblos-coblos bergembira demokrasi.
 
Bila pemerintah ibarat sebuah kehidupan, Pemilu menjadi sekolahnya. Untuk memilih pemimpin pemerintah, kita yang menentukan. Bila sistem sekolah keliru, maka semua pasti salah dalam kehidupan ini. Kita tak lagi hidup di masa silam. Tapi masih mau terus jadi ketinggalan. Berpemilu dengan cara kuno yang penuh curiga. Sementara kemenangan tetap selalu ditentukan suara terbanyak. Padahal manusia belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup.
 
“Non scholae, sed vitae discimus.”


(//mbs)

RESENSI »

Kejar Mimpi, Sukses Didapat
Kejar Mimpi, Sukses Didapat

"Lentera jiwa takkan pernah redup bila kita sendiri tak menghendakinya.  Meskipun sumbunya kecil, nyalanya bisa menerangi kegelapan, menunjukkan kebahagiaan ke berbagai penjuru kalau kita mau menyalakannya.” ~Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Saatnya Kartini Masa Kini Makin Berprestasi
Saatnya Kartini Masa Kini Makin Berprestasi

Hari Kartini kembali kita peringati. Bukan saatnya lagi wanita dipandang sebelah mata, tetapi harus terus diapresiasi agar semakin berprestasi.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Menunggu Hasil KPU
Menunggu Hasil KPU

Dengan usainya perhelatan Pemilu Legislatif pada 9 April 2014, maka isu politik yang lebih menegangkan adalah Pilpres pada 9 Juli 2014.